Keseruan “Kosmik Day with M&C!: Soul of Comedy” Chapter Bandung

By

Capeknya…

Oh, hai, Penduduk Bumi! Minggu (12/03) lalu, kami baru saja mendarat di Bandung, lho! Nggak sempet datang? Sayang banget, padahal acara kemarin asik banget. Ada sesi Blast Off: Wanoja, Kosmik Talk: In Search of Worlds bareng kreator di Kosmik, terus dilanjutkan dengan games dan signing session!

Special buat kamu yang gak sempat hadir, kami bikinin ulasan keseruan kemarin. Penasaran? langsung simak yuk!

 

Sekalian mengantarkan peredaran Kompendium Wanoja di Bumi, KOSMIK bekerja sama dengan M&C! dan Funco Comics Community bikin KOSMIK DAY with M&C dengan tema “Soul of Comedy”. Acaranya hari minggu (12/03) jam 13:00-18:00.

 

Selain Fauzy Zulvikar, kreator Wanoja, acara ini juga kedatangan kreator lain yakni: Nikki “Dewe” dan Beatrice “Bea” (Flick Royale), Galang Larope (Pakupalu), serta Yusuf Rizaldi (Peluru).

 

Saya sendiri yang kebagian ngebuka acara karena Alien King-nya lagi dinas di belahan bumi lain. Di bagian introduction ini, KOSMIK mau bagi info lebih gamblang tentang lomba Kosmik League. Hayo, udah tahu belum ada kompetisi ini? Hadiahnya lumayan loh! Submit segera karya terbaik kamu yah 😀

 

Abis kasih pembukaan, acara selanjutnya adalah simbolisasi peluncuran Kompendium Wanoja melalui serah terima cover dari pihak M&C! yang diwakili oleh Mbak Mega ke pihak KOSMIK yang diwakili oleh Dun-T alias saya sendiri! 😀

 

Penyerahan cover Wanoja

Penyerahan cover Wanoja

 

Cekrak-cekrek foto bentar, kita akhirnya masuk ke salah satu acara utama. Apalagi kalau bukan sesi Blast Off: Wanoja. Sang Kreator pun naik ke atas panggung diiringi theme song John Cena sebagai jinggle kebanggaannya!

 

Fauzy berbagi pengalaman ngomiknya. Rupanya, salah satu motivasi dia dulu terjun ke dunia komik cukup sederhana: dari semasa SD, dia cuma suka pelajaran gambar! Minat dan bakatnya ini kemudian membawanya ke takdir yang sekarang harus dia jalani: menjadi komikus!

 

Ngomongin komik Wanoja yang dia buat, Fauzy yang akrab dipanggil Oji ini ngakunya terinspirasi dari pengalaman sehari-hari. Bahkan lelucon yang dimasukan dalam komik juga gaya bercandaan yang dia alami sendiri semasa SMA.

“Sebenarnya sih, dari pengalaman sendiri. Gesek-gesek gitu juga dari pengalaman sendiri. Cuma, saya yang selalu jadi pelaku ngegeseknya. Hahaha,” Ujarnya sambil tertawa.

 

Fauzy sedang berbagi tentang proses pembuatan Wanoja yang ternyata penuh lika-liku

Fauzy sedang berbagi tentang proses pembuatan Wanoja yang ternyata penuh lika-liku

Meski berasal dari pengalaman sehari-hari, Wanoja mengalami proses panjang sampai akhirnya diterbitkan. Awalnya dia buat di ngomik.com sampai sempat diterjemahkan ke bahasa Inggris secara bajakan. Lalu sebuah penerbit buku tertarik untuk membukukan karyanya, namun setelah Oji berkutat memperbaiki kesalahan dalam Wanoja, mengganti gaya gambar, sampai meminggirkan tugas akhir kuliah, penerbitnya malah menghilang. Akhirnya Wanoja dia kirim ke beberapa penerbit lain, hingga dihubungkan ke Kosmik oleh Faza Meonk, kreator Si Juki. Di Kosmik pun serialisasinya makan waktu satu tahun lagi hingga muncul sebagai kompendium.

 

Di akhir sesi, Oji juga berbagi beberapa tips. Salah satunya, dalam membuat karakter dia sering mengambil sifat teman-temannya untuk dimasukkan ke dalam karakterisasi sehingga lebih membumi dan realistis. Tak lupa dia berbagi proses pengolahan dan pemolesan Wanoja, dari versi lama di ngomik.com sampai yang muncul di kompendium dengan revisi berkali-kali. Ssst, ada bocoran juga nih bahwa setelah tamat, Wanoja akan ada spin-offnya, lho!

 

Keseruan acara masih belum berakhir dengan ditutupnya sesi Blast Off. Dalam sesi In search of World; Dewe, Bea, Yusuf, serta Galang ikut bergabung dengan Oji ke panggung untuk sharing pembangunan dunia dalam komik. Diskusinya jadi seru karena mereka kasih pandangan yang berbeda-beda dalam membuat universe sesuai dengan pengalamannya.

 

Komik Wanoja tampaknya punya universe yang paling sederhana. Latar belakangnya ceritanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja SMA di Bandung. Jadi tidak perlu dibuat aneh-aneh. Namun dia menambahkan sebuah tips penting, yakni membuat figuran di background yang berinteraksi untuk menandakan latar dan membuat suasana adegan lebih hidup. Seperti yang dia lakukan di chapter 1 Wanoja dengan menaruh dua orang yang bertengkar dalam bahasa Sunda yang tidak diterjemahkan saat Galih, tokoh utamanya, membaca buku kutukan Wanoja.

 

Dewe dan Bea sendiri curhat bahwa dalam Flick Royale, latarnya dibuat perkuliahan karena mereka sudah terlalu jauh dari masa SMA sehingga merasa kesulitan membuat cerita berlatar SMA. Konsep pertarungan dalam Flick Royale sendiri didasari dari pengalaman Dewe membaca manga-manga olahraga dan permainan yang seringkali memiliki konsep absurd, sehingga tergerak untuk mencari konsep permainan lokal yang bisa memparodikan keabsurdan ini. Dalam membuat sebuah dunia juga merasa mesti sesuai porsi yang digunakan dalam cerita.

 

Yusuf menjelaskan Peluru sendiri latarnya terinspirasi dari genre film western koboi yang punya cap tersendiri di beberapa negara. “Mikirnya, kalau ada spaghetti western, kenapa tidak bikin pecel western sebagai versi lokalnya?” ujarnya. Sederhananya, Peluru merupakan ‘koboi Jawa’ yang juga mengambil inspirasi baik dari karya fiksi genre post-apocalypse seperti serial Fallout dan estetika Indonesia retro, seraya memasukkan sedikit unsur sejarah.

 

Sedangkan Galang dalam membuat Pakupalu buka-bukaan bahwa proses pengembangan dunianya paling kompleks. Dia mengaku merasa tertantang oleh editor Kosmik yang menekankan kelengkapan budaya serta sejarah dunia fantasi buatannya, sehingga dunia fantasi dalam Pakupalu menjadi sangat detail latar belakangnya, padahal ceritanya sendiri tergolong ringan karena diarahkan agar seperti Dragon Ball. Galang juga menekankan kontras dalam Pakupalu ketika Rinjani, tokoh utama dari dunia nyata, terjebak dalam dunia fantasi di mana Pakupalu berada.

 

Sesi "In Search of the World" oleh kreator Pakupalu, Flick Royale, Peluru, dan tentu Wanoja!

Sesi “In Search of the World” oleh kreator Pakupalu, Flick Royale, Peluru, dan tentu Wanoja!

Berlanjut ke sesi tanya jawab kedua, banyak juga ilmu yang dibagikan dari jawaban para komikus. Di antaranya tips untuk membuat pembaca percaya pada suatu universe, dengan cara membangun suasana melalui karakterisasi dan dialog khas dunianya, atau item khusus, juga melalui detail visual. Ada lagi tips tentang cara mendapatkan punchline yang enak, yang kompak dijawab oleh para komikus yakni berfokus pada membangun build up agar punchline tidak sia-sia, dikombinasikan sifat karakter dan keadaan sehingga situasi yang muncul jadi komedik.

 

Terakhir, ada games dan bagi-bagi merchandise dari M&C! dan Kosmik juga. Games yang diadakan yakni tebak gambar berantai berlangsung cukup heboh dan mampu membuat penonton ikut merasakan keseruannya, lho!

 

Acara ditutup dengan foto bersama dan signing session Wanoja. Waduh, sampai kenyang… gimana? Udah kapok nggak sempat ikut? Atau pengen Kosmik datang buat Kosmik Day di kotamu? Tulis aja di komentar dan tunggu kami mendarat!