Komikus dan Tujuannya Berkarya

By

Halo para penghuni Kosmos! Sudahkah kalian membaca buku hari ini?

Buat kalian yang belum tahu, hari ini, 23 April, adalah hari buku internasional. Perayaan ini diinisiasi oleh UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB) dan merupakan momen untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan, dan hak cipta buku.

Banyak cara untuk merayakan hari buku internasional. Dari mulai menulis buku sampai membaca buku bisa dilakukan sebagai bentuk kampanye positif bagi orang-orang di sekitar kalian. Di antara banyak buku yang bakal dibaca, tentu saja komik tidak bisa dilewatkan begitu saja dari daftar baca.

Yap, walaupun banyak orang yang masih memandang sebelah mata peran komik bagi pembacanya, namun tidak bisa dipungkiri banyak sekali manfaat yang bisa dipetik dari membaca komik. Kesadaran ini bahkan sudah muncul jauh di puluhan tahun yang lalu. Kalau di Indonesia, potensi komik mulai menyadarkan banyak orang ketika R.A. Kosasih menciptakan komik wayang di tahun 1960-an. Berkat kejeniusannya, R.A. Kosasih mampu menemukan potensi komik dan menciptakannya tidak hanya bertujuan untuk menghibur namun juga untuk mengedukasi pembaca Indonesia.

 

Komik Mahabharata karya R.A. Kosasih

 

Nah, tujuan membuat komik inilah yang kiranya perlu dipertimbangkan kembali oleh komikus Indonesia. Banyak alasan komik diciptakan oleh kreatornya, seperti untuk menghibur, untuk mengkritik, atau bahkan sekedar untuk curhat. Jangan sampai kreator tidak memperhatikan tujuan komiknya dibuat sehingga berimbas terhadap kebingungan pembaca yang menikmatinya.

Ada kalanya komik hadir menurut fungsi dulce et utile alias sekedar menghibur. Kreator ingin membuat pembaca senang, sehingga komiknya  dapat dinikmati di waktu luang. Banyak sekali genre komik yang tujuannya menghibur seperti ini. Di Jepang misalnya kita bisa melihat Crayon Shinchan ciptaan Yoshito Usui, komik bergenre humor yang mengisahkan anak sekolah dasar yang nakalnya bukan main. Cerita-ceritanya yang lucu dan disajikan secara singkat bisa membuat pembaca rileks menikmati kisah karakter ini.

 

Shinchan dan Keluarganya

 

Ada juga komik yang hadir dengan tujuan informasi. Komik dengan tujuan ini ingin menyajikan suatu data, baik sejarah ataupun berita tertentu. Komik seperti ini biasanya berupa komik sejarah, biopik, atau komik jurnalisme. Kita bisa menengok contohnya di komik The Photographer karya Didier Lefevre dan Emmanuel Guirbert. Komik ini menceritakan kondisi negeri Afghanistan yang dilanda perang tatkala Lefevre terjun ke sana dalam misi kemanusiaan. Secara gamblang Lefevre menyajikan gambaran bagaimana manusia Afghanistan harus hidup di tengah konflik kemanusiaan yang mendera negara mereka.

 

The Photographer karya Didier Lefevre dan Emmanuel Guirbert

 

Ada juga komik yang memiliki tujuan sosial. Biasanya cerita dalam komik merefleksikan suatu pesan terhadap kondisi sosial tertentu di masyarakat. Komik dengan muatan kritik biasanya memiliki tujuan seperti ini. Di Indonesia komik seperti ini banyak muncul di media massa. Contohnya seperti Panji Koming karya Dwi Koen. Komik ini menceritakan kisah kehidupan sehari-hari karakter Koming dan Pailul yang hidupnya sering merana karena ulah pembesar kerajaan. Melihat konflik di komik ini, akan terlihat bahwa sebenarnya komikus sedang melakukan kritik terhadap pemerintah Indonesia.

 

Pailul dan Koming karya Dwi Koen

 

Yang terakhir ada komik yang bertujuan untuk menawarkan sesuatu. Di sini komik berperan sebagai medium iklan. Komik semacam ini bisa kita saksikan di jejaring sosial Instagram, di mana banyak sekali komikus Indonesia yang di-endorse oleh pengelola produk-produk tertentu.

Nah, dari sini terlihat bukan jenis-jenis tujuan kreator dalam membuat komik. Kreator komik memang perlu sekali untuk memiliki tujuan yang jelas dalam membuat komik. Dengan mengerti tujuan dan alasan membuat komik, komikus bisa memposisikan dirinya dengan baik sehingga keselerasan hubungan antara Komikus – Karya – Pembaca dapat terjaga dengan baik.

Terakhir, mari kita nikmati hari buku internasional sesuai peran kita masing-masing. Komikus perlu memiliki tujuan yang sesuai ketika menghasilkan karya. Penerbit perlu menyediakan fasilitas baca yang pantas ketika memproduksi buku. Dan, pembaca perlu mengapresiasi komik ataupun bacaan apapun dengan bijak. Di hari buku internasional ini, mari kita ciptakan iklim membaca yang baik di Indonesia.