Kosmik Class: Ajang Belajar Para Penggemar Komik

By

Sabtu siang (22/4), bertempat di Ke:Kini Ruang Bersama, Cikini, Jakarta Pusat, KOSMIK menyelenggarakan workshop pembuatan komik bertajuk Kosmik Class: Unfolding The Secret of Story Telling. Acara kelas belajar ini ditujukan bagi para pecinta komik yang ingin belajar story telling atau membangun cerita dalam komik. Acara menjadi menarik lantaran para peserta tidak belajar sendiri. Para kreator dari KOSMIK turun langsung menjadi mentor bagi para peserta acara.

 

 

Turut serta membuka acara, Sunny Gho selaku CEO KOSMIK. Dalam sambutannya, Sunny berharap semakin banyak orang yang bisa membuat komik dengan kualitas cerita yang bagus.

 

 

Setelah sambutan dari Sunny, kelas dimulai dengan pemaparan materi dari Bonni Rambatan (kreator Not My Hero) dan Jaka Ady (kreator Manungsa). Dalam presentasi berjudul ‘Telling Worlds and Characters through Objects,Bonni menerangkan fungsi obyek dalam pengembangan cerita. Suatu obyek dapat menjadi bagian dari pembangunan dunia dalam cerita (world building), pengembangan karakter (character development), ataupun menggambarkan metafora yang mengandung makna lebih dalam untuk menyampaikan pesan dalam cerita.

 

 

Jaka Ady melanjutkan pemaparan Bonni dengan memberikan contoh komik dengan storytelling yang menarik. Salah satunya misalnya komik Hellboy karya Mike Mignola dan Dave Stewart.  Hellboy yang berasal dari neraka mendadak mencintai suatu benda unik dari bumi; pancake! Kegemaran baru Hellboy tersebut membuat suasana neraka menjadi hiruk pikuk. Melihat hal tersebut, Astaroth, Pangeran Neraka, menggelengkan kepala seraya berucap lirih kepada pengikutnya, “ini adalah waktu-waktu terkelam dalam hidup kita.”

Selesai sesi materi presentasi, acara dilanjutkan dengan mentoring atau pelatihan. Peserta dibagi menjadi tujuh kelompok, masing-masing kelompok dibimbing oleh satu mentor. Adapun mentor yang terlibat, yaitu Haryadhi (kreator Rixa), Erfan Fajar (kreator Manungsa), Jaka Ady (kreator Manungsa), Ockto Baringbing (kreator Suryaraka), Bonni Rambatan (kreator Not My Hero), Nikki “Dewe” (kreator Flick Royale), dan Jho Tan (kreator Kentang).

 

 

Dalam kelas ini, peserta ditantang untuk mampu membuat story board dalam dua atau empat halaman. Story board yang dibuat terdiri dari bagian pembukaan, eskalasi, klimaks, dan penutup. Sebagai dasar pembuatan cerita, disediakan tiga advertorial tentang produk yang ada di masa depan. Advertorial ini merupakan cerita terbaik yang dimenangkan dalam Sayembara Serana42, sebuah majalah fiksi ilmiah yang menjadi partner resmi dalam penyelenggaraan kelas kali ini. Peserta bebas memilih satu dari tiga naskah advertorial yang ada dan mengembangkannya kedalam cerita.

Hasilnya? sebagian peserta menyelesaikan tantangan ini dengan baik. Banyak sekali ide cerita yang segar dan menarik yang dibuat para peserta. Di akhir sesi mentoring, para mentor memilih beberapa cerita dari peserta yang dianggap paling menarik. Seperti dari kelompok yang dimentori Jho Tan. Jho memilih satu cerita yang memiliki ujung cerita yang mengejutkan. Diceritakan  terdapat seorang lelaki yang menyukai seorang wanita. Karena begitu ingin dicintai oleh sang wanita, si lelaki kemudian mengkloning wanita tersebut. Sayang, setelah sang wanita berhasil dikloning dan hasil kloningannya mencintai si lelaki, karena sebuah kesalahan fatal si lelaki justru kehilangan ingatan akan wanita tersebut.

 

 

Keseruan interaksi antara mentor dan peserta berlangsung hingga ujung acara. Di akhir acara, tim KOSMIK berkesempatan meminta kesan dan pesan dari peserta acara. Rara, salah satu peserta acara, turut memberikan testimoninya. Dia merasa senang karena bisa bertemu teman-teman yang memiliki ide yang beragam. Dia juga bahagia lantaran bisa bertemu dengan mentor-mentor berpengalaman dari KOSMIK. “Di sini bisa belajar storytelling dengan para narasumber yang bisa langsung memberikan feedback kepada kita,” ujarnya.

Ungkapan Rara tersebut memberikan sinyal positif bagi para kreator komik di Indonesia, bahwa di luar sana masih banyak orang yang ingin mendalami komik. Sudah saatnya para kreator tidak hanya mengeluarkan komik, namun juga menularkan ilmu komiknya. Semua demi menyemarakkan suasana komik Indonesia.