Mitologi Superhero

By

Pernahkah kita merasa malas ketika menghadapi mata pelajaran sejarah?

Di antara kita, pasti ada yang mengantuk, melamun, bermain pulpen, atau bahkan membolos, ketika pelajaran sejarah sedang diajar di kelas. Di antara kita juga, pasti banyak yang lebih menyukai membaca komik daripada belajar di kelas. Superman, Batman, The Flash, Aquaman, atau berbagai judul komik lain lebih membuat kita puas daripada belajar sejarah. Padahal bila kita tilik lebih dalam, sebenarnya komik-komik tadi terikat erat dengan sejarah lho. Kok bisa? Bagaimana itu bisa terjadi?

Tidak banyak orang tahu, komik superhero pertama kali muncul karena penulisnya terinspirasi oleh sejarah. Kita mulai dari Superman, tokoh yang diklaim sebagai superhero pertama di dunia. Superman diciptakan oleh Joe Shuster dan Jerry Siegel. Mereka mengatakan bahwa mereka membuat Superman karena kagum dengan pegulat yang muncul di sirkus yang ketika itu singgah di kotanya. Itulah mengapa mereka memberi Superman celana dalam di luar, suatu kostum yang lumrah dipakai pegulat kala itu. Namun, tidak serta merta Shuster dan Siegel meniru begitu saja kemampuan pegulat yang mereka kagumi. Mereka mengolah ciri-ciri karakter mitologis untuk melengkapi ciri khas superhero ciptaan mereka. Menurut penelusuran Peter Coogan dalam  bukunya yang berjudul Superhero: The Secret Origin Of A Genre (2006), Siegel mengaku bahwa kala itu ia tiba-tiba saja teringat tokoh-tokoh mitologi. Ketika menciptakan Superman, ia terbayang akan Hercules, tokoh mitologi dari Yunani, dan Samson, tokoh mitologi dari kepercayaan Yahudi. Bila kita bandingkan, kekuatan dan tampilan fisik Superman memang mirip dengan Hercules dan Samson. Hercules berbadan kekar, sama seperti Superman. Samson juga kuat, namun kekuatannya akan menghilang ketika musuhnya memotong rambutnya. Sama seperti Superman yang kekuatannya hilang ketika musuhnya membawa batu Kryptonite. Nah, dari sini mulai terlihat kan kalau tokoh komik juga memiliki kaitan dengan sejarah?

 

Superman dengan Hercules, Samson, dan Atlas (Action Comic 320, Januari 1965)

Superman dengan Hercules, Samson, dan Atlas (Action Comic 320, Januari 1965)

Coogan juga menuliskan karakter The Flash di era Golden Age. Flash juga memiliki kemiripan dengan tokoh mitologi Yunani. Flash di era Golden Age memakai helm dan sepatu dengan simbol sayap di sisi kanan kirinya. Ikon sayap ini juga mirip dengan yang dimiliki Hermes, tokoh mitologi Yunani. Helm bersayap Hermes, yang disebut Petasos, dan sepasang sandal bersayap, yang disebut Talaria, membuat Hermes mampu terbang dengan cepat sehingga dianggap dewa paling cepat. Ciri kecepatan inilah yang menginspirasi Gardner Fox dan Harry Lamper dalam menciptakan karakter speedster bernama The Flash.

 

Flash dengan Hermes

Flash dengan Hermes

Ada juga Thor, yang jelas-jelas kreatornya, Stan Lee, mengaku terinspirasi dari dewa Thor dari kepercayaan Nordik. Wonder Woman terinspirasi oleh kisah prajurit wanita Amazon dari mitologi Yunani. Aquaman terinspirasi dari legenda Poseidon, dewa laut pada mitologi Yunani. Ada juga Robin Hood, folklore masyarakat Inggris yang menceritakan kisah orang yang bertindak di luar tata hukum demi kesejahteraan orang-orang kecil. Kisah ini mirip dengan Batman, karakter yang bertindak di luar hukum untuk membasmi penjahat-penjahat dan pejabat korup di Gotham City.

Kalau di Indonesia sendiri, karakter superhero juga banyak mendapat pengaruh dari mitologi. Namun, berbeda dengan superhero Western yang banyak mendapat inspirasi dari mitologi Yunani, superhero Indonesia banyak mendapat pengaruh dari mitologi nusantara.

Sebut saja superhero yang juga adalah judul buku komik pertama Indonesia, Sri Asih. Sri Asih adalah superhero wanita yang memiliki kekuatan super setara dengan 250 lelaki dewasa. Tidak hanya itu, ia juga mampu berubah menjadi raksasa, dan membelah diri menjadi tiga. Oleh kreatornya, RA. Kosasih, karakter Sri Asih terinspirasi dari sosok Dewi Sri, dewi kesuburan dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan Bali.

Gundala Putera Petir ciptaan Hasmi juga terinspirasi dari tokoh folklore. Hasmi mengaku bahwa ia terinspirasi dari kisah Ki Ageng Selo, seorang tokoh yang dipercaya mampu menangkap petir dan mengalirkan energinya melalui tangannya. Kisah Ki Ageng Selo ini tertulis dalam Babad Tanah Jawi dan masih dipercaya masyarakat Jawa, terutama di daerah Grobogan Jawa Tengah, hingga saat ini.

Gundala diceritakan mampu mengeluarkan sambaran petir dari kedua tangannya. Tak hanya itu, Gundala juga mampu berlari secepat angin. Topeng Gundala yang memiliki sayap putih di kedua sisinya, mirip dengan helm yang digunakan Hermes dan Thor. Terlihat bagaimana Hasmi banyak memanfaatkan mitologi untuk melengkapi karakter Gundala ciptaannya.

Bergeser jauh ke era kekinian, kita mengenal tokoh Raibarong karya Alex Irzaqi. Jika kita mencermati karakter ini, dari nama dan struktur mukanya saja kita langsung teringat akan legenda barong dari tanah Bali. Menurut Zaqi, begitu ia akrab disapa, ia memang terinspirasi dari legenda Barong dan Rangda dari era kerajaan Airlangga. Legenda ini menceritakan pertarungan antara roh kebaikan melawan penyihir wanita jahat. Untuk melengkapi karakternya, Zaqi juga banyak memasukkan referensi dari cerita yang berhubungan dengan seni topeng dan tato, seperti Voodoo, Hudoq, hingga Pinokio.

 

Barong Bali

Barong Bali

 

Raibarong

Raibarong

Kalau kalian membaca Kosmik Mook, pasti tahu cerita Jamu Sakti karya Ockto Baringbing. Di situ kita bisa menyimak cerita Kabinet bentukan pemerintah Indonesia yang diberi nama Kabinet Kekuatan, yang memanfaatkan sumber daya alam negeri Indonesia untuk membuat jamu berkekuatan super. Anak-anak sekolah yang mengonsumsi jamu tersebut tiba-tiba memiliki kekuatan super, seperti mampu mengeluarkan api, mampu melihat menembus dinding, dan berlari dengan sangat cepat.

Jamu Sakti

Jamu Sakti

Jamu sendiri adalah budaya pengobatan tradisional Jawa yang sudah ada sejak zaman pra sejarah sampai saat ini. Relief candi Borobudur pada tahun 722 Masehi menggambarkan kebiasaan meracik dan meminum jamu. Konon pada saat itu, rahasia kesehatan dan kesaktian para pendekar dan petinggi-petinggi kerajaan berasal dari latihan, semedi, dan juga mengkonsumsi beberapa ramuan semacam jamu. Kisah jamu juga tergambar pada prasasti Madhawapura dari peninggalan kerajaan Hindu Majapahit. Di sana tergambar adanya profesi “tukang meracik jamu,” yang disebut acaraki. Ockto Baringbing sebagai kreator komik Jamu Sakti berhasil mengolah kisah kebudayaan Jawa hingga menjadi cerita science fiction yang unik dan lucu.

Relief Jamu di candi Borobudur

Relief Jamu di candi Borobudur

Nah, jadi sekarang terlihat kan, kalau komik juga seringkali memasukkan unsur mitologi dan sejarah dalam ceritanya. Buat kalian pembaca komik, kalian juga bisa mendapatkan informasi-informasi baru dengan mengulik komik-komik yang memiliki unsur mitologis tertentu. Dan, buat kalian para kreator komik, kalian bisa mendapat banyak inspirasi karakter jika bisa memanfaatkan dongeng dan mitologi yang ada di sekitar kalian. Indonesia ini luas kok, di dalamnya juga banyak daerah dan suku. Dengan kekayaan budaya dan mitologi yang kita miliki, harusnya kita lebih mudah melahirkan tokoh-tokoh yang unik dan kaya akan nilai filosofi.