Peluru: Feel the Heat of the Bullet!

By

Sepertinya beberapa hari ini aktivitas kami di kosmik.id makin banyak, ya. Halo, penduduk Bumi, apa kalian ikut memperhatikannya? Baru minggu lalu kami merilis HeartXBreak (ingat, X-nya jangan dibaca, ya) yang heboh, lalu kemarin muncul satu lagi komik online baru dari Kosmik, komik bergenre “Pecel Western” alias koboi lokal dengan latar post-apocalypse, berjudul Peluru!

Kenapa? Belum baca? Yah, padahal bagus banget, lho… kalau begitu, biar penasaran, dan juga buat yang udah baca dan mau tahu seluk beluk dalamnya, kami berhasil mewawancarai para kreator Peluru! Yusuf Rizaldi, penulisnya, dan Ogi Prasetiya, ilustratornya, ternyata datang dari latar belakang yang berbeda, lho. Yusuf, yang biasa dipanggil Ucup, merupakan orang sastra sementara Ogi sudah cukup lama berkarya dalam komik. Ditambah lagi, mereka belum pernah bertemu muka dalam pengerjaan komik ini! Namun, Peluru adalah debut mereka dalam penerbitan komik nasional di Bumi. Hebatnya, kualitasnya nggak terasa mirip debut! Mari kita tanyakan kenapa!

artikelpeluru1

DUN-T : Buat Ucup, kenapa bisa pertama kali terbersit buat bikin Peluru? Buat Ogi, kenapa tertarik mengerjakan Peluru?

UCUP : Awal idenya pertama kali terbersit dari potongan dialog cerpen yang pernah saya buat; di situ konteks dialognya tentang duel. Lewat duel itu nyambung ke Western, terus kepikiran obrolan teman-teman dulu soal Western Jawa… ya, lalu jadilah Pecel Western, yang jadi basis konsep Peluru.

OGI : Pertama kali ditawari sih belum tahu bakal ngerjain komik genre apa. Dibilangnya cuma nyari cerita yang sesuai dengan gaya gambar saya. Pas akhirnya dikirim script awal Peluru, langsung deh tertarik dengan konsep Pecel Western-nya. Saya langsung ngebayangin adegan actionnya entar bakal begini begitu. Apalagi sebelumnya saya belum pernah bikin komik action, jadi ya excited banget, terutama dengan pengambilan setting jadulnya. Selain itu juga banyak informasi baru yang saya dapat.

DUN-T : Buat Ucup, apa alasannya bikin setting kayak gini? Buat Ogi, tantangan dalam menggambar settingnya apa aja?

UCUP : Ada beberapa alasan (selain karena sekadar kepingin saja, kala itu saya keranjingan Fallout: New Vegas), yang mana satu-dua darinya belum bisa dibahas sekarang karena bakal spoiler banget.

Jadi… saya pikir begini. Setting Western menurut saya cukup susah diterjemahkan secara langsung; konteks sejarah kita yang kolonial relatif kurang pas. Salah satu esensi Western itu kan, pergulatan manusia untuk mendirikan peradaban di dunia liar, di frontier—sedang dalam sejarah kan, yang jadi “frontier” itu kita sendiri…

Berarti, perlu ada modifikasi. Setting­-nya perlu diperluas. Jadi, saya ambil setting post-apocalypse plus Western. Dua setting itu punya banyak kemiripan rasa dan nuansa. Post-apocalypse menyediakan landasan ‘dunia liar’ yang dibutuhkan, sekaligus mengizinkan kita untuk bikin divergensi sejarah dan what-if apa-apa saja yang bisa timbul dari divergensi itu—sesuatu yang berkaitan langsung dengan tema inti Peluru, jadi sebaiknya tidak dibahas lebih lanjut.

OGI : Tantangan terbesar sih, karena ini kali pertama bikin komik action, jadi agak kerepotan juga gambar gesturnya, apalagi saya masih awam sama tema koboi begini, dan karena settingnya jadul, jadi agak susah desain outfit karakternya karena terbatas. Meski begitu saya sangat menikmati mengerjakan Peluru ini. Menggambar bangunan lawas dan suasana jadul itu mengasyikkan.

artikelpeluru2

DUN-T : Dalam membuat serial yang dua bulan sekali plus minusnya apa aja dari sisi masing-masing?

UCUP : Plusnya, waktu pengerjaan lebih banyak. Minusnya sih mungkin karena jeda waktu yang cukup panjang itu, momentum cerita jadi berkurang. Orang juga jadi harus baca-baca ulang.

OGI : Hmm… dari segi positifnya sih karena rilisnya dua bulanan jadi punya waktu sedikit lebih banyak untuk pengerjaan naskahnya. Terlebih saya menggambar full manual. Selain itu, mencari referensi gambarnya juga gampang-gampang susah. Jadi perlu waktu tambahan yang agak menyita hanya untuk cari referensi. Kalau negatifnya, perlu menunggu waktu yang lama untuk bisa baca chapter selanjutnya.

artikelpeluru4

DUN-T : Buat Ucup, proses pengerjaan naskah Peluru itu gimana ya runutnya? Dan buat Ogi, kenapa milih manual/tradisional cara gambarnya dan tantangannya apa ketimbang campuran/100% digital?

UCUP : Buat plotline dulu, kurang lebih gambaran kasar di dalam bab ini membahas apa, memuat kejadian apa saja… itu selesai, lalu kejadian-kejadian itu diperinci menjadi adegan per adegan visual yang dideskripsikan melalui teks, disertai dialog dan susunan panelnya.

OGI : Kenapa milih full tradi? Pertama sih karena emang passion saya di gambar tradisional. Saya terkesan dengan komikus-komikus yang masih menggunakan media tradisional dalam pengerjaannya. Apalagi karya tradisional itu menurut saya punya kesan estetik tersendiri yang tidak ada dalam karya digital. Selain itu, karena terbiasa mengerjakan secara tradisional, jadi proses pengerjaan malah lebih cepat daripada digital. Kedua, banyak orang lebih tertarik dengan karya manual saya ketimbang karya digital. Jadi akhirnya saya memutuskan untuk berkarya secara tradisional. Kalau tantangannya sih mungkin karena teknik tradisional itu sifatnya spontan jadi kalau ada revisi agak susah. Kalau gak ngulang dari awal ya, ditracing kemudian diedit digital kalau revisinya hanya minor/bagian-bagian tertentu. Ah satu lagi, saya ini orangnya gaptek, karena itu saya lebih nyaman dengan tradisional, hahaha…

artikelpeluru3

DUN-T : Komik dan atau komikus panutan masing-masing, juga kalau ada seniman atau sastrawan panutan?

UCUP : Kalau komik dan komikusnya: Blacksad (Juan Diaz Canales & Juanjo Guarnido), Fullmetal Alchemist (Hiromu Arakawa), RED (Kenichi Muraeda), karya-karya Satoshi Mizukami dan Inio Asano.

Sedang penulis, untuk luar negeri ada Hemingway; Tolstoy; Chekhov; O’Connor, sementara dalam negeri Idrus; Iksaka Banu; Joni Ariadinata.

OGI : Komikus panutan sih banyak, hehe. Kalau dari Indonesia sendiri ada Indiria Maharsi dan Kharisma Jati. Pada dasarnya saya suka gaya gambar dengan tekhnik arsir, jadi ketika melihat karya beliau berdua langsung klop. Kalau dari luar negeri sih saya terinspirasi dengan gaya gambarnya Jorge Jimenez, Pepe Larraz, Stuart Immonen, Kiyohiko Azuma, Takehiko Inoue dan Adachitoka. Sedangkan kalau dari luar profesi komikus, yang jadi panutan saya dalam menggambar diantaranya ada Elfandiary, Iwan Darmawan, dan Rudy Siswanto.

Gimana? Udah dapat insight lebih dalam soal cara mereka ngomik? Jadi penasaran baca? Atau jadi nagih? Jangan lupa ikuti kisah Peluru di kosmik.id/peluru yang akan terbit dua bulan sekali setiap tanggal 27!