Studio Ghibli yang Dicintai

By

Lantunan denting pianonya membuat orang terhanyut. Seisi aula terdiam, masyuk menyimak alunan lirik yang dia lantunkan. Perpaduan petikan bass, tiupan seruling, serta gesekan senar biola semakin menambah semarak nyanyian berbahasa Jepang yang begitu fasih dia lantunkan. Sherina Sinna Munaf, dengan aura kesyahduannya mampu menghipnotis seluruh penghuni ruangan. Pada hari itu, Kamis 31 Maret 2017, dengan lantunan musik-musik tema film Studio Ghibli, Sherina membuka rangkaian acara Press Conference The World Of Ghibli di Ballroom Ritz Carlton Pasific Place Jakarta.

The World Of Ghibli merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Studio Ghibli, studio animasi pemenang Academy Awards asal Jepang, dan bekerjasama dengan dengan Kaninga Pictures dari Indonesia serta Hakuhodo DY Media Partners. Dalam rangkaian acara ini, selama bulan April hingga September 2017 akan diputar 22 film Studio Ghibli di 45 layar bioskop jaringan bioskop Cinema 21 seluruh Indonesia. Tidak hanya itu, pada tanggal 10 Agustus sampai 17 September akan juga diadakan Exhibition World Of Ghibli di Jakarta. Eksibisi ini rencananya akan menjadi acara Studi Ghibli terbesar yang pernah diselenggarakan di seluruh Asia Tenggara.

Turut serta membuka Press Conference, Willawati selaku CEO dari Kaninga Pictures. Dalam siaran persnya, Willawati berharap agar rangkaian acara ini akan diterima baik oleh masyarakat Indonesia. “Studio Ghibli memiliki penggemar setia dari seluruh penjuru dunia. Hal ini dikarenakan film-film mereka memiliki kualitas animasi yang memikat dan cerita yang sarat akan nilai, mulai dari cinta keluarga, pelestarian lingkungan, hingga pemberdayaan perempuan,” ujar Willawati. “Kami berharap film-film Studio Ghibli dapat diterima dengan baik, tidak hanya oleh penggemarnya di Indonesia, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya,” kata Willawati.

Selain Sherina dan Willawati, acara Press Conferense juga dihadiri langsung oleh Toshio Suzuki, general manager Studio Ghibli. Dalam sambutannya, Suzuki berjanji kepada masyarakat Indonesia untuk mempersembahkan yang terbaik dalam The World Of Ghibli. “Kami (Studio Ghibli dan Kaninga Pictures) akan bekerja keras untuk menyajikan yang terbaik,” demikian ia berkata.

 

Pembukaan The World Of Ghibli

 

Keindahan Ghibli

Indonesia adalah negeri yang cukup asing untuk Studio Ghibli. Film-film Ghibli yang telah tayang sejak tahun 1985 tidak pernah meletakkan Indonesia sebagai pasar utama pemutaran filmnya. Namun, di luar ekskpektasi pihak Ghibli, di Indonesia ternyata begitu banyak orang yang mencintai karya Ghibli.

Hal tersebut terlihat dari banyaknya netizen yang berlomba mendaftarkan diri agar dapat mengikuti press conference. Di ruang acara, separuh lebih audiens adalah para penggemar film-film Ghibli. Mereka begitu asyik menyimak penuturan Toshio Suzuki yang tersampaikan melalui perantara penerjemah. Ruangan juga sempat ramai ketika para fans dikejutkan dengan munculnya Kaonashi, si roh tanpa wajah dari film Spirited Away (2001), karya Ghibli yang memenangkan kategori film animasi terbaik Oscar tahun 2003.

Selepas acara, para fans rela berjejalan demi bisa berfoto bersama Suzuki. Tak hanya sampai di sana, mereka juga rela antri panjang demi mendapatkan tanda tangan dalam plakat doodle yang disiapkan panitia untuk mereka.

Riuh penggemar yang bersuka cita kemudian menyiratkan suatu pertanyaan: mengapa Ghibli begitu dicintai oleh penontonnya?

Akan banyak sekali rupa alasan orang akan kecintaan mereka terhadap film-film Ghibli. Ockto Baringbing, komikus tanah air yang pernah mendapatkan penghargaan Silver Prize 6th International Manga Award di Jepang, ketika dikontak penulis memberikan pendapatnya.

“Pertama kali kenal Ghibli dari film Grave Of The Fireflies yang ditayangkan Japan Foundation Jakarta. Para penonton pada nangis semua. Buat saya ini baru pertama kali menemukan film animasi yang bisa seperti ini. Beda dengan anime kebanyakan,” ujar Ockto.

Pasca kejadian itu, Ockto kemudian menonton film-film Ghibli yang lain. Menurutnya, unsur humanis dalam film Ghibli sangat kuat. “Terutama animasinya, begitu menyatu dengan real life.  Seperti adegan mobil mau jalan, pake dibikin mobilnya mogok sedikit. Tidak terlalu penting, tapi justru membuat filmnya jadi hidup banget,” papar Ockto.

Pendapat Ockto ini cukup beralasan jika kita menyimak pendapat Hayao Miyazaki, pendiri Studio Ghibli. Miyazaki pernah mengatakan dalam bukunya yang berjudul Starting Point (1979-1996) bahwa animasi memang menyajikan suatu fiksi. Namun, animasi juga harus membuat dunia yang di dalamnya itu terasa senyata mungkin. Hal ini akan mendorong penonton untuk merasuk dan merasakan eksistensi dunia itu.

Tengok saja film Spirited Away. Walaupun menceritakan dunia roh, namun Ghibli mampu menyajikan tempat-tempat yang dekat dengan kultur masyarakat Jepang. Stasiun kereta api, rel, laut, padang rumput, pemandian umum, hingga kelas pekerja yang mengisi pemandian umum tersebut adalah gambaran suatu kenyataan sosial yang sebenarnya ada di Jepang.

Usaha Ghibli untuk membuat penonton dekat dengan film juga begitu detil. Salah satunya tergambar dalam Spirited Away saat adegan Chihiro bergegas menggenakan sepatu. Tidak sekedar memasukkan kakinya ke dalam sepatu, Chihiro juga tergambar menyisipkan jarinya agar sepatu lebih mudah masuk. Setelah masuk, sepatu ia ketukkan di tanah. Adegan penggunaan sepatu saja begitu dekat dengan kehidupan nyata. Hal yang terkesan kecil inilah yang justru membuat penonton dekat dengan dunia yang dibangun Ghibli.

 

Chihiro memakai sepatu

 

Berangkat dari dunia yang akrab dalam benak pembaca, Ghibli kemudian menyampaikan cerita melalui penggambaran tokoh-tokoh yang unik dan ikonik. Roh yang biasanya tergambar menyeramkan, oleh Ghibli bisa jadi terkesan lucu dan menggemaskan.

Karakter Totoro dalam My Neighbor Totoro (1988) misalkan. Ghibli meramu folklor roh penjaga hutan menjadi suatu makhluk identik musang dengan badan bulat dan besar. Tak hanya itu, karakter bundar ini juga menggunakan payung yang sangat kecil, yang tentu saja tidak seimbang dengan ukuran tubuhnya. Jadilah sebuah tokoh lucu bernama Totoro, yang oleh Ghibli kemudian dijadikan maskot perusahaannya.

 

Karakter Totoro

 

Salah satu poin penting lain dalam film-film Ghibli adalah pesan moral yang dikandungnya. Contohnya misalkan Grave of the Fireflies (1988), yang dengan haru mampu menggugah hati penonton akan akibat dan kesia-siaan yang ditimbulkan oleh perang. Princes Mononoke (1997) yang mengkampanyekan isu lingkungan dengan latar cerita era Muramachi (sekitar tahun 1336 sampai 1573). My Neighbor Totoro yang menggambarkan cinta dan kasih sayang sebuah keluarga. The Wind Rises (2013) yang memuat pesan untuk menggapai cita-cita dan harapan. Selain itu, tentunya masih banyak lagi film Ghibli yang memang memiliki pesan sosial yang kuat.

Hal-hal seperti yang disebutkan tadilah yang membuat Ghibli mampu begitu dicintai banyak kalangan. Estetika Ghibli ini mampu merasuk dan menerobos batas-batas teritori. Penonton Indonesia, pasar yang tidak terlalu terpikirkan oleh Ghibli sebelumnya, mampu menikmati dan mencintai film Ghibli dengan berbagai cara. Adalah suatu keistimewaan ketika kecintaan terhadap Ghibli tersebut menemukan jalannya dalam The World Of Ghibli selama setahun ke depan. Sungguh suatu momentum yang sangat sayang untuk dilewatkan.