Kenapa Kita Harus Baca Komik?

By

Kalau ditanya manfaat baca buku non fiksi, udah pasti semua orang bisa jawab. Tapi gimana dengan manfaat baca cerita fiksi, yang lebih spesifik lagi ceritanya dikemas dalam bentuk komik? Gak sedikit dari masyarakat kita yang beranggapan kalau baca cerita fiksi, dalam hal ini berbentuk komik, adalah aktivitas senang-senang belaka. Yah, sekadar menghabiskan waktu dan main-main. Bahkan masih banyak orang tua dan guru yang gak menganjurkan anak-anak terlalu banyak baca komik. Alasannya macem-macem, tapi yang paling umum biasanya karena komik dianggap sebagai bacaan yang gak serius, bikin anak-anak malas baca buku. Hmm, benarkah begitu?

 

 

 

Moon1

Kosmik reach new heights (doc: Kosmik Space)

 

 

Kenyataannya gak gitu loh! Komik justru membantu kita untuk suka membaca. Makanya, kalau kamu ngerasa susah banget fokus baca buku sampe lewat Gramedia aja bisa nguap-nguap, coba deh mulai baca-baca komik. Cek beberapa rekomendasi komik menarik yang paling bikin kamu tertarik. Gak harus yang mahal atau import, komik lokal yang harganya terjangkau dan ceritanya seru juga banyak kok! (contohnya Kosmik MOOK, *ehem!) Jangan lupa, baca buku itu bukan hanya soal minat tapi juga keterampilan. Butuh latihan sampai akhirnya kita terbiasa menyerap pesan dengan cepat dan tepat dari seabrek informasi yang berjajar rapi di lembar demi lembar bukumu.

 

 

Ada pula penelitian yang menjelaskan dampak positif dari membaca cerita non-fiksi seperti komik dan graphic novel. Cerita yang didukung gambar macem komik gitu jadi pemicu yang efektif sampai seseorang jadi seneng membaca buku, atau istilah bahasa Inggris-nya reading for pleasure. Tanpa ada yang maksa atau nyuruh, kamu udah dengan sendirinya mau baca buku. Orang yang baca dengan sukarela kayak gini biasanya punya kecerdasan sosial dan kemampuan literasi yang tinggi. Bahkan jadi penentu faktor kesuksesan yang lebih tinggi daripada faktor sosial ekonomi keluarganya.

 

 

 

Kosmik Collections

Kosmik Collections (Doc: Kosmik Space)

 

 

Selain meningkatkan minat baca, komik bantu kita memiliki cara berpikir yang berbeda. Kita dilatih untuk jadi lebih kritis dan kreatif dalam memahami berbagai stimulus yang hadir di sekitar kita. Komik adalah versi yang lebih sederhana dari teks berbasis kata. Kata-kata yang dimuat dalam komik selalu dibuat lebih ringkas dan mudah dipahami. Namun, proses penciptaan meaning sebenarnya jauh lebih kompleks.

 

 

Dalam komik, pesan yang harus disampaikan gak cuma bergantung pada kata-kata. Ada banyak elemen yang harus diolah sebelum menghasilkan suatu makna. Elemen tadi misalnya design, pemilihan balon kata dan font, body language, sampai bentuk dan eskpresi karakter yang membuat kita gak cuma baca, tapi juga mengobservasi sampai memahami situasinya. Proses penciptaan meaning dengan mempertimbangkan beragam elemen kayak gini disebut dengan istilah multimodal literacies.

 

 

 

Manungsa

Manungsa Vol 1 (doc: Kosmik Space)

 

 

Seorang profesor dari University of Windsor, Dale Jacobs mengatakan: “By embracing the idea of multimodal literacy in relation to comics, then, we can help students engage critically with ways of making meaning that exist all around them, since multimodal texts include much of the content on the Internet, interactive multimedia, newspapers, television, film, instructional textbooks, and many

other texts in our contemporary society.”

 

 

Dengan kata lain, baca komik mendidik diri kita untuk secara kritis menciptakan

makna yang ada disekitar kita, mengingat kita udah hidup di era digital dimana

multimodal text itu gak hanya ada dalam media semacam komik doang, tapi juga hampir semua konten media yang kita konsumsi setiap hari.

 

 

Jadi, salah kalau dibilang gambar dalam komik membatasi imajinasi kita untuk menciptakan makna yang

ada dalam teks. Baik pembaca maupun kreator komik, mengalami proses secara aktif untuk

menciptakan makna berdasarkan

familiarity dengan sejarah, pengalaman, dan minat masing-masing. Penciptaan makna secara aktif dengan mempertimbangkan beragam elemen ini juga melatih kita untuk lebih kritis dan sadar dalam menghadapi situasi. Sebagaimana Prof. Jacob juga menekankan:

 

 

“By complicating our view of comics so that we do not see them as simply an intermediary step to more complex word-based literacy, we can more effectively help students become active creators, rather than passive consumers, of meaning in their interactions with a wide variety of multimodal texts. In doing so, we harness the real power of comics in the classroom and prepare students for better negotiating their worlds of meaning.”

 

 

 

Rixa Pages

RIXA: A dream of space (doc: Kosmik Space)

 

 

So, masih berpikir bahwa membaca komik itu adalah hal yang negatif?